Last Day in Ho Chi Minh (Day 4)

Hari terakhir di Ho Chi Minh City, saya dan tim memutuskan untuk mencoba tour Cu Chi Tunnel (baca: Kuci). Cu Chi merupakan sebuah wilayah historis di Vietnam. Banyak sekali travel agent yang menawarkan paket tur ke Cu Chi Tunnel. Saya memilih sebuah agen yang memang menjadi rekanan tempat saya menginap. Ada dua pilihan perjalanan ke Cu Chi: Pertama, dengan menggunakan bus pulang pergi (biaya 5 USD), Kedua, menggunakan boat untuk berangkat dan bus untuk kembali (biaya 15 USD). Tentunya, kami memilih opsi yang kedua, pengen naik boat soalnya, menyusuri Saigon River. 
 Menyusuri Saigon River


Jam 8:30 pagi, kami dan rombongan naik bus menuju ke Bach Dang Ferry, boat kami sudah menunggu disana. Perjalanan dengan boat dimulai. Di boat, hanya kami bertiga yang orang Asia, kami paling imut, dan tentunya paling ribut. Selama di boat ada saja ulah kami yang bikin penumpang lain tersenyum atau tertawa, termasuk saat saya dan Mila mencoba berbagai pose di boat itu. 


Menikmati pemandangan di sepanjang sungai Saigon


Perjalanan ke Cu Chi via boat memakan waktu sekitar 1 jam 30 menit. Dan beristirahat sekitar 20 menit di sebuah restoran pinggir sungai. Kekacauan kembali terjadi di restoran ini, saat saya, Mila dan Vonny mencoba memesan Ice Coffee Milk (cà phê sữa đá) kepada pelayan. Sayangnya si pelayan ternyata tak mengerti bahasa Inggris sama sekali. Heran juga, restoran yang menjadi persinggahan para turis itu tidak memiliki pelayan yang bisa sedikit “Bahasa Inggris”. Bukan hanya itu, menu nya pun semuanya dalam Bahasa Vietnam. Dohhhh puyeng. Saat kami mencoba mendiskripsikan kopi susu pake es (kopi ala Vietnam yang sangat enak), si pelayan tetap gak ngerti. Si pelayan baru mulai ngeh maksud kami, saat Mila menggambar gelas berisi es. Fiuhhhh problem solved. Saat pesanan kami terhidang, ternyata minuman kami gak memakai susu sesuai yang kami pesan. Kami protes dong.... Melihat ribut-ribut di meja kami, sang manajer resto datang menghampiri berniat membantu mungkin. Namun yang terjadi malah sebaliknya, karena si Manajer sama sekali tidak ber-Bahasa Inggris, malah lebih parah dari pelayannya. Untungnya kami diselamatkan oleh seorang rekan kami asal Switzerland yang juga ikut tour. Fiuhhhh, thanks mate. 


Setibanya di Cu Chi, kapal merapat dan kami menuju ke gerbang masuk Cu Chi untuk membayar tiket masuk 75.000 Dong. Saya sempat heran melihat kerumunan pengunjung yang berfoto di depan sebuah pohon. Tahu nggak pohon apa itu? POHON NANGKA. Hahahaha, mereka semuanya mungkin pertama kali liat nangka. Kalo pohon nangka mah di kampungku juga banyak. :p




Masuk tunnel lewat sini

 
Memasuki Cu Chi, kami melihat sistem tunnel (terowongan) yang dibuat oleh penduduk Cu Chi untuk berlindung dari serangan bom-bom udara tentara Amerika atau kejaran tentara Amerika. Terowongan-terowongan ini dibangun saling terhubung satu dan yang lainnya, serta memiliki bunker untuk perawatan kesehatan, memasak, ruang makan dan ruang pertemuan. Selain dibangun di bawah tanah, tunnel ini juga dirancang dengan sistem sirkulasi udara yang memanfaatkan sumber daya lokal seperti bambu. Bukan hanya tekun membangun tunnel, penduduk Cu Chi ternyata mahir membuat jebakan. Banyak sekali jebakan yang mereka buat untuk mempertahankan wilayah mereka dari gempuran tentara Amerika. Saya sempat begidik membayangkan betapa menderitanya orang-orang yang terkena jebakan-jebakan ini.
Mencoba tunnel di Cu Chi....untung badan gua kecil 


Saat dilakukan uji coba lintas terowongan, hanya lima orang yang mampu menunaikan tugas menyelesaikan penelusuran terowongan sampai finish yaitu saya, Mila, Vonny dan dua mahasiswa Jerman. Tubuh kami yang imutlah yang membuat kami mudah melalui terowongan ini, ukuran terowongannya kan dirancang untuk orang Asia. Pantesan aja rekan bule lainnya kepayahan menyelesaikan tantangan ini. Selain wisata terowongan, kami juga diajak wisata kuliner. Kami diajak untuk mencoba makanan sehari-hari penduduk Cu Chi pada saat mereka tinggal dalam tunnel. Saya, Mila dan Vonny ternganga melihat makanan yang disajikan: SINGKONG REBUS. Yah pemirsa, jauh-jauh dari Jakarta kami disuguhi singkong rebus. Para bule lah yang kalap memakan singkong rebus ini, kami nggak lho... SWEAR. 


Saya melihat bahwa pemerintah Vietnam sungguh serius menggarap pariwisatanya. Sebenarnya kunjungan ke Cu Chi ini akan menjadi kunjungan biasa-biasa saja layaknya kita mengunjungi situs bersejarah. Namun, karena tour Cu Chi dipadukan dengan tour Saigon river, maka perjalanan ini tak terasa membosankan. Sayang sekali rasanya membayangkan Indonesia yang dialiri ratusan sungai, namun kurang termanfaatkan dan tidak diintegrasikan dengan situs-situs bersejarah yang mungkin bisa dipromosikan.
Our team.... (rock)
Puas berkeliling kompleks Cu Chi tunnel, saatnya kami pulang ke Ho Chi Minh. Kali ini, pulangnya naik bus. 90 menit kemudian, kami sudah tiba di De Tham, wilayah backpacker Ho Chi Minh. Tersisa waktu dua jam sebelum kami ke airport. Dan kami memanfaatkan waktu ini dengan menyusuri Bui Vien, kawasan belanja yang juga termasuk kawasan backpacker. Ssst, kata temen-temen Indonesia yang main ke sini, harga di Bui Vien ini lebih murah lho dari harga barang di Ben Tanh market.


Selesai berbelanja, kami menuju Bandara dan bertemu dengan beberapa orang yang sepesawat saat pemberangkatan ke Ho Chi Minh. Berbagi cerita dengan backpacker Indonesia lain serta koper-er (istilah saya bagi yang membawa koper) lainnya.



Kunjungan saya ke Vietnam dan Kamboja ini benar-benar membuat saya sadar akan tantangan yang dihadapi para traveler saat mengunjungi negara-negara yang penduduknya tidak berbahasa Inggris. Terlebih di Vietnam, dimana kami sangat jarang menemukan rekan lokal yang mudah diajak berkomunikasi dalam Bahasa Inggris, selain itu orang-orang Vietnam terkesan kurang ramah. Namun, saya harus mengakui Ho Chi Minh memang kota yang layak dikunjungi, banyak paket wisata yang bisa dinikmati disini, mau dalam kota atau luar kota. Terserah anda, sesuaikan dengan waktu dan anggaran.


Pengeluaran Hari Keempat 


  1. Trip to Cu Chi Tunnel = 15 USD

  2. Bekal Lunch Tuna + Air Mineral = 29.000 Dong

  3. Biaya masuk kawasan Cu Chi Tunnel = 75.000 Dong

  4. Taksi ke Bandara Tan So Nath = 9 USD, dibagi 3 menjadi masing-masing 3 USD

  5. Makan malam di pesawat = Rp 39.000

  6. Taksi dari bandara Soekarno Hatta – Rumah = Rp 130.000

Total pengeluaran hari keempat:
= 18 USD + 104.000 Dong + Rp 169.000 (1 USD = Rp 9200, Dan 1 Dong = Rp 0,5)
= Rp 165.600 + Rp 52.000 + Rp 169.000
= Rp 386.600 


TOTAL PENGELUARAN 4 HARI KE HO CHI MINH DAN PHNOM PENH
= Day 1 + Day 2 + Day 3 + Day 4 
= Rp 319.500 + Rp 528.300 + Rp 317.800 + Rp 386.600 
= Rp 1.552.200 


PS: Budget diatas diluar oleh-oleh lo yah. Oh iya lupa, harga tiket Jakarta - Ho Chi Minh PP = Rp. 600.000,- . Tapi, tiketku ke Ho Chi Minh kan gratis, hadiah ulang tahun dari teman. Hehehehe. Life is beautiful, I mean it!


Comment Policy : Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.

Beri Komentar Tutup comment

Disqus Comments

Search This Blog

Powered by Blogger.