Universitas-universitas di Jepang sangat memperhatikan mahasiswa-mahasiswi asingnya. Perhatian ini makin terasa di universitas-universitas kecil karena jumlah mahasiswa asingnya biasanya sedikit. Dan karena jumlahnya sedikit, bagian International Student Service kampus bisa mengenali dan lebih akrab dengan para mahasiswa asing yang ada di universitas tersebut. Saya beruntung sempat mengecap pendidikan di sebuah universitas kecil di Jepang. Setiap minggu, ada saja kegiatan-kegiatan kebudayaan yang ditawarkan oleh kampus untuk para mahasiswa asing. Dan pesertanya pun tak banyak berubah dari satu even ke even yang lain karena memang jumlah kami tidak banyak. Tujuannya mungkin biar kami (para mahasiswa asing) bisa mengisi weekend dan berbaur dengan masyarakat setempat.
Sudah menjadi tradisi International Student Service di kampus untuk mengadakan perjalanan wisata ke sebuah kota di Jepang. Perjalanan ini disubsidi kampus. Jadi, tiket pesawat, hotel dan makan kami sebagian besar ditanggung kampus. Tahun itu kebetulan perjalanannya ke Okinawa selama tiga hari. Tak butuh waktu lama untuk para mahasiswa asing untuk memenuhi kuota, maklumlah biaya perjalanannya amat sangat murah sekali (sayangnya saya lupa tepatnya berapa). Saya dan teman-teman exchange sudah pasti terdaftar di urutan teratas list tersebut mengingat kelas exchange selalu dianggap sebagai "having fun class". Di hari keberangkatan, ada sekitar 100 mahasiswa asing yang didanai untuk jalan-jalan melihat Okinawa. Sebagian besar mahasiswa Master dan PhD, dan hanya sekitar 15 orang mahasiswa exchange. Meski ber-15, rombongan kamilah yang paling ribut mulai dari rebutan kursi, foto-foto atau bernyanyi lagu-lagu Jepang. (FYI, lagu kokoro no tomo gak terkenal lho di Jepang).
| Berfoto di setiap perempatan, errrrrrrrr |
Okinawa merupakan prefektur paling selatan di Jepang yang terdiri dari empat pulau besar: Okinawa, Miyako, Yaeyama dan Senkaku. Berbeda dengan prefektur-prefektur lain, Okinawa memiliki suhu rata-rata di atas 20 derajat Celcius setiap tahun. Jadi, jangan harap pernah bermain ski atau melihat salju di Okinawa. Mungkin karena suhu nya pula, orang-orang Indonesia yang pernah kesini menganggap bahwa tinggal di Okinawa tak beda jauh dengan tinggal di Indonesia. Penduduk nya pun berkulit lebih gelap dari orang-orang Jepang daratan pada umumnya. Okinawa merupakan salah satu lokasi pangkalan militer Amerika, jadi jangan heran kalau disini banyak bule-bule Amerika yang lalu lalang di jalanan. Prefektur Okinawa beribukota di Naha. Sarana transportasi umum yang tersedia di Naha adalah monorel dan bus.
Banyak pengalaman lucu bepergian dengan sejumlah orang dari berbagai negara. Ada beberapa teman dari Asia Selatan yang mengenakan jas lengkap di hari keberangkatan, kami semua sempat heran juga melihat mereka yang keukeuh mengenakan jas di bawah teriknya matahari di Okinawa. Tapi sudahlah, mungkin begitulah dress code liburan mereka. Ada juga dosen cross-cultural understanding kami yang sangat antusias menjelaskan sejarah Okinawa di bus, yang sukses membuat kami tertidur pulas. Atau, para mahasiswa exchange yang berfoto bersama di setiap perempatan jalan dan menjadi pusat keributan kemanapun rombongan ini pergi. Yang paling norak adalah saat kami mencoba monorail di Naha, kami bergaya tak tahu malu dalam monorel diiringi senyum simpul para penumpang lain. Jujur, itu kali pertama bagi saya naik monorel jadi jangan salahkan saya kalau saya ikut dalam rombongan teman-teman kelas saya yang norak, ribut bin narsis.
| Take picture, anytime anywhere |
Ada beberapa tempat yang kami kunjungi selama di Okinawa. Sayangnya, saya tak ingat semuanya. So, seingat saya saja yah.
Shuri Castle (Shuri Jyo)
Shuri Castle merupakan salah satu situs UNESCO World Heritage. Tempat ini dulunya merupakan pusat administrasi serta tempat kediaman Raja Ryukyu, sebelum berganti nama menjadi Okinawa dan resmi menjadi salah satu prefektur di Jepang. Tempat ini konon dibangun sejak tahun 1300 dan telah berulang kali rusak parah karena perang dan kebakaran. Terakhir, tempat ini hancur saat perang dunia kedua namun dibangun kembali pada tahun 1992. Shuri Castle memiliki lokasi yang sangat luas. Bangunan utamanya berwarna merah. Di dalam bangunan utama ini, pengunjung diajak untuk melihat peninggalan kerajaan Ryukyu, termasuk singgasana rajanya yang juga berwarna merah. (Ternyata mereka sudah mengenal kata "matching" saat Shuri Jyo dibangun). Dari Shuri Castle pula, kita bisa melihat pemandangan Naha dari atas. Tak salah memang memilih lokasi ini sebagai kediaman raja, tempatnya indah dan memungkinkan raja untuk melihat keadaan rakyatnya dari atas.
![]() |
| Gerbang Depan Shuri Jyo |
![]() |
| Shuri Jyo in red |
Churaumi Aquarium
Churaumi Aquarium merupakan aquarium terbesar ketiga di dunia setelah Georgia Aquarium di Amerika dan Dubai Mall Aquarium. Jadi mumpung di Naha, tak ada salahnya menjadwalkan kunjungan ke Churaumi Aquarium. Tempatnya berlokasi di Ocean Expo Park nan luas. Begitu masuk ke tempat ini, kami langsung disambut oleh taman-taman indah dan air mancur. Kami makin ternganga saat memasuki lokasi akuariumnya. Saya berulang kali berdecak kagum "Eeeeeee, ookii neee!!!" (Waaahh, gede bangetet!!!). Pengunjung lokalnya saja berkali-keli berteriak takjub saat masuk ke tempat ini, apalagi saya yang waktu itu memang belom pernah sekalipun ke Sea World. Selain akuarium, lokasi ini juga memiliki tempat pertunjukan lumba-lumba akrobat yang selalu dipadati pengunjung. Ditambah lagi, Churaumi Aquarium memiliki beberapa pantai cantik buat nongkrong. Saya sempat beberapa kali berpisah dari rombongan karena berbelok ke pantai-pantai indah itu.
![]() |
| Taman cantik di Churaumi |
| Third largest aquarium in the world |
| Nice spot in Churaumi aquarium area |
Kokusai Dori Street berarti jalan internasional. Jalan ini sejatinya adalah malioboronya Naha, terletak di jantung kota Naha dan terbentang sepanjang kurang lebih 2 km. Kokusai Dori menawarkan pesona Naha di malam hari sebagai pusat keramaian yang aman dan ramah turis. Mall, restoran, toko suvenir, butik, bar, kafe, jajanan tersedia sepanjang jalan ini. Musisi dan pelukis jalanan juga mudah ditemui di Kokusai Dori di malam hari. Belum lagi, jajanan lokal yang menggugah selera di pinggir jalan. Kami beruntung karena hotel kecil tempat kami menginap terletak di Kokusai Dori yang membuat kami jadi kalap shopping kalau malam hari sepulang dari tur. Mungkin saking kompaknya, shopping di Kokusai Dori pun, saya lakukan dengan teman-teman sekelas. Shopping gak shopping yang penting kumpul kan?
| Shopping till drop at Kokusai Dori |
| Kokusai Dori: Okinawa's Malioboro |
| Playing cards with our lecturer in my hotel room |



Beri Komentar Tutup comment