Ada apa di Kurume? Di Kurume kami berencana akan mengunjungi sebuah sekolah luar biasa. Saya dan Katarina diminta oleh Furui Sensei untuk memberikan presentase kepada murid-murid SLB yang ada disana tentang Indonesia dan Slovakia. Untungnya, saya telah menghapalkan apa yang akan saya ucapkan. Saat itu saya harus presentase dalam bahasa Jepang tentang Indonesia. Yah maklum lah sodara-sodara, waktu itu Bahasa Jepang saya teramat sangat belepotan (sekarang malah lebih belepotan lagi).
Begitu memasuki pintu gedung, saya sudah mendapatkan sebuah surprise berupa ucapan Selamat Datang yang terpampang dalam Bahasa Indonesia dan Slovakia. Kata para guru, murid-murid yang membuat ucapan selamat datang tersebut. Saya sudah tercekat duluan.
| Ucapan Selamat Datang beserta patung selamat datanng nya |
| Bendera Indonesia - Slovakia ala Murid Murid SLB di Kurume |
Antusiasme murid dimulai saat saya memulai presentasi tentang Indonesia. Saya menunjukkan betapa beragamnya negeri saya tercinta ini, disertai sejumlah gambar berisikan adat dan budaya serta tempat-tempat terkenal di Indonesia. Anak-anak itu makin terlihat senang saat saya mengeluarkan sarung dan menunjukkan bagaimana cara memakai sarung. Mereka tergelak dan juga takjub. Katarina juga melakukan presentase dengan sangat baik. Senang melihat anak-anak itu tersenyum dan bergumam tanda takjub saat kami memperkenalkan kepada mereka budaya-budaya kami.
| Lagi siap siap pake sarung.... mo buka jaket dulu hehehehe |
| Ini jadi artis apa jadi tukang lenong yah |
| Bersama murid, guru dan pendamping |
Setelah semua acara selesai, saya, Katarina dan Furui Sensei denga berat hati meninggalkan SLB diiringi lambaian tangan dari pada murid, guru dan pendamping mereka. Saya membawa sebuah tas jinjing hasil prakarya mereka. Saat tiba di kamar, saya baru sadar bahwa terselip sebuah amplop berisikan segepok uang Yen yang jumlahnya bisa buat traktir beberapa teman selama 7 hari berturut-turut. Alhamdulillah. Dua minggu kemudian, saya dan Katarina dipanggil menghadap Furui Sensei. Ternyata kami mendapatkan puluhan surat dari para murid SLB yang kami kunjungi. Meski dengan tulisan jepang khas anak kecil, saya dan Katarina berkat bantuan Furui Sensei bisa membaca satu persatu surat-surat tersebut. Semuanya mengucapkan terima kasih dan meminta kami datang lagi. Sungguh sebuah apresiasi yang sangat tinggi dari anak-anak penyandang cacat di Kurume. Saya tercenung saat itu, betapa sebuah kunjungan ke tempat mereka bisa sangat berarti untuk mereka.
Saya mengamati bahwa para penyandang cacat di Jepang mendapatkan banyak fasilitas layanan publik yang memadai sehingga mereka bisa beraktifitas. Pun di Australia, banyak mahasiswa dengan kursi roda yang lalu lalang di kampus yang menandakan bahwa hak mereka untuk mengecap pendidikan hingga ke universitas ternyata diakomodasi oleh negara. Saya tak akan membandingkan situasi di atas dengan situasi penyandang cacat di negeri saya tercinta, saya tak suka menyalahkan. Karena saya yakin, semuanya juga sudah tahu.
Saya lebih suka memanggil mereka dengan sebutan diffable, daripada disable. Karena mereka pasti punya kelebihan yang lain, makanya saya memilih menggunakan diffable atau different ability. Buktinya, prakarya prakarya murid-murid SLB di Kurume sangat artistik dan berhasil menghias meja belajar saya di Jepang. Dan jangan salah, mereka punya kelebihan lain. Kelebihan mereka adalah mereka tahu bagaimana cara yang elegan untuk menerima tamu.
Beri Komentar Tutup comment